Verified

Radikalisme Islam di tanah Papua: Ja’far Umar Thalib dan upaya memelihara tradisi Nabi

08:07 Mar 3 2019 Jalan Protokol Koya Barat, Distrik Muara Tami Kabupaten Jayapura; Arso 14 Distrik Skamto, Kabupaten Kerom

Radikalisme Islam di tanah Papua: Ja’far Umar Thalib dan upaya memelihara tradisi Nabi Radikalisme Islam di tanah Papua: Ja’far Umar Thalib dan upaya memelihara tradisi Nabi
Description
Sejak tahun 2015, Masjid Al- Muhajirin yang terletak di Jalan Protokol Koya Barat, Distrik Muara Tami - Kota Jayapura (Papua) tak seperti sebelumnya. Ada beberapa orang yang sering menghadiri sholat memakai pakaian putih. Setelah sholat berjamaah, mereka melanjutkan dengan sholat sendiri. Pimpinan kelompok ini bernama Ja'far Umar Thalib. Ja'far Umar Thalib dan santrinya mengontrak sebuah rumah kos di Koya Barat dan sering berdakwah di Masjid Al - Muhajirin. Tetapi protes dari warga dan tokoh-tokoh Papua, mereka kemudian pindah ke Arso XIV, Kabupaten Kerom, Propinsi Papua.

Pagi itu di Jalan Protokol, Koya Barat

Pada hari Rabu tanggal 27 February 2019 pukul 05.05 WIT, Ja’far Umar Thalib melakukan cerama agama di Masjid Al - Muhajirin yang terletak di Jalan Protokol Koya Barat, Distrik Muara Tami - Kota Jayapura, Papua. Ceramanya direkam oleh anaknya Abdullah Jafar Thalib dan disirakan langsung dalam akun facebook Jafar Umar Thalib. Dalam video itu, Ja’far terlihat tenang dalam membawakan ceramanya hingga selesai. Sesekali terlihat suara burung. Pada pukul 05.20 WIT, ketika Ja’far menutup ceramanya dengan doa, terdengar lagu rohani Kristen yang berasal bukan dari ruangan tempat cerama. Lihat video Cerama Ustad Ja’far Umar Thalib 27 Februari 2019.

Dari penulusuran beberapa video yang terdapat dalam akun facebook Jafar Umar Thalib, penulis menemukan bahwa Ja’far Umar Thalib rutin menggunakan Masjid Al - Muhajirin sebagai tempat cerama keagamaan. Menurut Ustad Hidayat Gani, pengurus Masjid Al - Muhajirin bahwa Ustad Ja’far Umar Thalib selalu sholad dan cerama di Masjid Al - Muhajirin jika tidak keluar daerah atau ada jadwal cerama di Masjid di Entrop.

“Yang saya perhatikan, Ustad Ja’far Umar Thalib selalu sholad di Masjid ini. Ia selalu tepat waktu meskipun ia tinggal di Arso XIV. Jika dia tidak hadir dalam sholat, itu artinya dia ada keluar daerah,” ungkap Ustad asal Ternate itu.

Ja’far Umar Thalib terlihat sangat disiplin. Ia dan para santrinya selalu hadir tepat waktu dalam sholat lima waktu. Setelah sholad berjamaah, Ja’far melaksanakan sholad lagi bersama para santrinya.

“Setelah kami sholat bersama, Ustad Ja’far masih melanjutkan sholat bersama dengan santrinya. Yang saya heran ini, jarak antara Arso XIV dan Koya Barat itu jauh. Butuh satu jam perjalanan dengan mobil atau motor, dan ketika kami mulai sholat pada jam 04.00 pagi, Ustad Ja’far bersama santrinya sudah ada di Masjid. Itu berarti mereka bangun jam 03.00 pagi dan datang ke sini,” ungkap Ustad Hidayat Gani.

Setelah selesai cerama di Masjid Al - Muhajirin, pukul 05.30 WIT, Ja’far Umar Thalib bersama tujuh orang santrinya keluar dari Masjid Al-Muhajirin untuk hendak pulang ke tempat tinggal mereka, Pondok Pesantren Ihya As-Sunnah Arso XIV, Kabupaten Kerom - Papua.

Lagu rohani Kristen yang diputar sepuluh menit lalu itu masih terdengar. Jarak antara Masjid dan tempat lagu rohani itu diputar sekitar lima puluh meter. Lagu rohani itu diputar di rumah Bapak Henock Niki, usia 41 tahun dan beragama Protestan. Rumahnya juga terletak di Jalan Protokol Koya Barat. Rumah itu agak masuk ke dalam, sekitar dua meter dari Jalan Protokol. Ada sebuah teras yang dipenuhi dengan beberapa kursi dan dua buah motor yang diparkir. Empat buah Sondsistem yang diletakan pada sudut kanan di teras itu, dan sebuah Sondsistem yang digantung di dinding rumah. Ia juga memasang toa speaker pada menara air. Pagi itu, Bapak Henock memutar lagu rohani Kristen irama musik kolintang Sulawesi Utara dengan menyambungkan pada semua speacker yang dimilikinya, termasuk toa speaker yang diletakan pada menara air di samping rumahnya itu.

Alunan musik rohanis itu memberi kedamaian tersendiri di rumah Bapak Henock Niki. Suasanan damai itu berubah menjadi ketakutan. Kira-kira pukul 05.35 WIT, dua mobil yang membawa Ja’far Umar Thalib dan santrinya berhenti di depan rumah Bapak Henock Niki. Menurut seorang saksi mata, ketika mobil Ja’far berhenti, ada seseorang yang berteriak kata “Serbu”. Setelah itu, Ja’far Umar Thalib dan tujuh santrinya keluar dari mobil dan berjalan ke rumah Bapak Henock Niki. Terlihat tiga orang santrinya memegang samurai. Mereka masuk ke teras rumah Bapak Henock Niki, dan melakukan pengrusakan Sondsistem dan juga melakukan penganiayaan kepada Bapak Henock Niki dan anaknya Irfan Niki (14 tahun) sambil mengatakatan, "Kenapa memutar lagu terus disini macam tempat ibadah saja”.

Setelah itu, Ja’far Umar Thalib bersama tujuh orang santrinya pergi meninggalkan rumah korban. Ketujuh orang itu adalah Ustad Fauzi, Ustad Ikhsan jayadi, Abdul rahman, Anas darman, Abdullah Jafar Tholib, Mujahid dan Ustd Abu Yahya.

Suasana di Jalan Protokol sedikit mencekam.

Tidak terima dengan perlakukan Ja’far Umar Thalib dan ketujuh santrinya, sekitar pukul 06.30 WIT di hari yang sama, keluarga Bapak Henock Niki melakukan pemalangan Jalan Protokol dengan ranting kayu dan membakar ban bekas. Dan lima menit berselang, lima orang anggota Polsek Muara Tami datang ke rumah Bapak Henock Niki dan langsung melakukan negosiasi dengan Bapak Henock Niki dan keluarganya. Ka SPKT II Polsek Abepura AIPTU Aswan yang hadir ikut dalam perbincangan dengan keluarga Bapak Henock Niki. Aiptu Aswan bersama empat orang petugas polisi membawa Bapak Henock Niki, Irfan Niki dan Ibu Maria Montesori Runtuboy sebagai saksi ke Polsek Muara Tami untuk dimintai keterangan.

Di Jalan Protokol itu, tak jauh dari Masjid Al- Muhajirin ban bekas yang sedang dibakar mengeluarkan asap hitam ke udara. Jalan ditutup. Tidak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang seperti biasanya. Situasi ini menjadi berita yang menyebar ke mana-mana. Orang mulai ramai memperbincangkan di media sosial. Gambar-bambar dan video dari lokasi diposting dan disebarkan di media sosial.

Pukul 07.00 WIT, Kapolsek Muara Tami AKP D. Piter Kalahatu, SH datang ke lokasi pemalangan beserta anggota polisi dari Polsek Muara Tami. Berselang sepuluh menit, Danramil TNI AD Muara Tami Kapten Inf. Sutrisno beserta anggota Koramil tiba. Mereka tanpa berbicara dengan warga yang sedang kumpul. Tampak memantau situasi.

Barulah pukul 09.00 Wit komponen pemerintah serta pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama datang ke lokasi dan melakukan rapat kordinasi dengan keluarga korban, para tokoh pemuda dan masyarakat. Nama - nama yang hadir dalam pertemuan tersebut :
- Kepala Departemen agama kota Jayapura Drs. H. Syamsudin, MM
- Kadistrik Muara Tami Supriyanto, S. Sip
- FKUB kota Jayapura, DR Eko Susanto
- Ketua FKUB Distrik Muara Tami Pdt. Viktor Baransano
- Ketua FKUB kab. Keerom
- Danramil 1701-22/M Tami Kpt Inf Sutrisno
- Kapolsek Muara Tami Akp D Pieter Kalahatu,SH
- kasat sabhara polresta Jayapura Akp Erol Sudradjat
- Kanit intelkam Polresta Jayapura Iptu budi rahman
- Lurah Koya Barat Luter Sabarofek
- Ketua pengurus Masjid Al Muhajirin Koya Barat Ust Hidayat, Spd. Mpd
- Tokoh Masyarakat Niko Paay
- Tokoh Masyarakat Olof Fingkrew
- Pemilik Rumah Henok Niki
- Bakal klasis Distrik Muara Tami Pdt. Abraham mayor
- Keadilan dan keutuhan ciptan GKI di tanah Papua Pdt. Nike mirino

Pukul 09.45 WIT, pertemuan para tokoh ditutup dengan pernyataan perwakilan para tokoh masyarakat yang diwakili oleh Olof Fingkrew. Olof Fingkrew menyatakan bahwa masyarakat tidak terima dengan tindakan dari Ustad Ja’far bersama santrinya. Ia berbicara dengan tegas dan lantang selama tiga puluh dua menit. Menurutnya masyarakat tidak terima dengan tindakan dari ustad Jafar dan santronya. Ini bukan kejadian yang pertama, tapi yang ketiga. “Saya minta ketua pengurus Masjid harus tegas. Harus menolak kelompok mereka yang tidak benar. Tokoh pengurus Masjid harus dihadirkan dalam musyawarah ini untuk kita sama sama bikin komitmen”, ungkap Fingkrew.

Lebih lanjut menurut Akp D.Pieter Kalahatu,SH., Kapolsek Muara Tami turut menyampaikan pernyataannya kepada tokoh-tokoh masyarakat yang hadir. Kapolsek menegaskan bahwa aparat keamanan yang lebih jeli lagi dalam melakukan tindakan antisipatif untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan. “Kami selaku aparat keamanan memaklumi adanya kejadian pemalangan ini,ini merupakan isyarat bagi kami untuk melaksanakan tindakan antisipasi untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan.kita semua masyarakat disini jangan sampai di provokasi oleh pihak pihak tertentu yang membesar besarkan cerita,ini merupakan isu sara.mari kita semua sama sama menjaga stabilitas keamanan nasional,khususnya di wilayah kita sendiri”, ungkapnya. Lebih lanjut Kalahatu tagaskan bahwa pihak kepolisisan menyadari masyarakat merasa kecewa karena kejadian seperti ini merupakan kejadian yang ketiga. Pasti masyarakat mengira, aparat keamanan tidak bekerja dengan baik. Ia meminta kepada para tokoh masyarakat dan warga masyarakat untuk tolong beri waktu kepada aparat kepolisisan untuk bisa menyelesaikan permaslahan ini. “Bantu kami dengan berikan keterangan sejujur jujurnya untuk bisa mencari pelakunya”, tegasnya.

Hemat pihak kepolisian bahwa kejadian ini merupakan kriminal murni, yang dipicu oleh salah paham. tetapi Niko Paay, seorang tokoh adat di Koya Barat menegaskan bahwa kelompok Ustad Ja’far ini merusak kerukunan di tanah Papua. “Kami selama ini sudah cukup sabar. Kejadian ini merupakan kejadian yang ketiga. Kelompok ini kelompok yang merusak, dan kelompok yang sama dengan kejadian yang pertama dan kedua. Mereka ini bukan penduduk sini. Usir semua mereka dari bumi Papua ini. Mereka ini yang memecah belah kerukunan umat beragama’, ungkapnya. Lebih lanjut Paay tegaskan bahwa jika kelompok Ustad Jafar masih melaksanakan sholat subuh di masjid ini dengan mobil yang sama, ia akan bakar. Ibadah apa yang dilakukan dengan membawa senjata tajam seperti itu, berarti mereka sudah rencanakan niat yang tidak baik. Ini benarkan oleh Supriynto, S.Sip., Kadistrik Muara Tami. Menurut Supriyanto, “apa yang disampaikan oleh Pak Niko Paay tadi itu benar. Mereka bukan penduduk sini. Saya minta pada pihak pengurus Masjid untuk bersikap tegas kepada kelompok tersebut untuk menolak mereka. Jangan sampai berkembang opini bahwa pengurus Masjid memberikan perlindungan terhadap mereka. Jangan berikan ruang kepada mereka untuk tumbuh dan berkembang di wilayah kita yang damai dan tentram ini. Harapan kami, untuk menjaga stabilitas keamanan, kami minta untuk netralisir kejadin ini,kita boleh marah,tapi jangan sampai menimbulkan pertumpahan darah”. Lebih lanjut ia tegaskan,“Kita jangan sampai diadu domba. Kita harus menjaga kerukunan umat beragama. Kita harus solid lagi. Untuk itu, saya mohon kerja samanya kepada bapak-bapak tokoh adat, mari kita buka palang ini. Karena ini jalur umum untuk seluruh lapisan masyarakat”.

Kemudian diberikan kesempatan kepada tokoh Gereja untuk berpendapat.

“Kami mengemban amanat”, ungkap Pendeta Welem Itaar.
“Kita, warga Distrik Muara Tami harus bersikap tegas. Tegas dalam artian siapapun orang yng masuk wilayah Muara Tami ini, harus mendapat izin dari tokoh adat,t okoh masyarakat dan instansi pemerintah”, ungkap Itar lebih lanjut.

Pertemuan ini semakin hangat ketika perwakilan tokoh masyarakat dan agama dari Kerom memberikan pendapat. Kini giliran Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kerom. “Kami dari Kabupaten Kerom tidak bisa terpisahkan dengan kasus ini. Karena markas mereka (baca: Pondok Pesantren Ihya As-Sunnah Arso XIV) ada di Kabupaten Kerom. Apa yang sudah dilaksanakan di Kerom, kami selama ini sudah mengeluarkan SP 3 pada kelompok mereka (baca: Kelompok Ustad Jafar Umar Thalib), terutama dalam hal mereka membangun pondok pesantren di Arso 14 seluas 28,5 Ha. Mereka ini belum terdaftar di Kesbangpol. Ini merupakan peringatan untuk pihak-pihak yang mendukung mereka tumbuh dan berkembang di wilayah kita ini supaya mengambil langkah langkah tindakan tegas pada kelompok ini”, ungkap Ketua FKUB.

Pertemuan yang sedang berlangsung serius terhenti seketika Bapak Niko Paay mendapat telpon dari AKP Jaka Muliana, Kapolsek Skamto. Ini terjadi ketika jarum jam berada pukul 11.20 WIT. AKP Jaka Muliana menginformasikan kepada Bapak Niko Paay bahwa pelaku pengrusakan rumah Bpapak Henock Niki telah ditangkap dan akan dibawa ke kantor Polresta Jayapura untuk dilaksanakan penyelidikan lebih lanjut.

Ketika mendengar informasi dari AKP Jaka Muliana, peserta pertemuan akhirnya sepakat untuk membuka palang di Jalan Protokol. Kira-kira pukul 11.30 WIT. Pertemuan selesai dengan kesimpulan bahwa masyarakat sepakat untuk membuka palang. Tuntutan masyarakat telah terpenuhi oleh aparat keamanan. Tujuh menit setelah pertemuan berakhir, Bapak Niko Paay beserta seluruh jajaran yang melaksanakan pertemuan, datang menemui masyarakat di lokasi pemalangan untuk menjelaskan hasil pertemuan bahwa pelaku pengrusakan rumah Bapak Henock Niki telah ditangkap, dan meminta kepada masyarakat untuk membuka palang jalan. Masyarakat yang berkumpul di Jalan Protokol bersediah dan bersama-sama dengan aparat keamanan dari Polisi dan TNI membuka palang.

Bersamaan dengan dibukanya palang di Jalan Protokol, terdengar Adzan dzuhur. Menurut Ustad Hidayat Gani bahwa tingkat penghormatan orang Papua terhadap keberagaman sangat tinggi. “saya menyaksikan palang dibuka. Air mata saya turun. Saya sudut. Orang Papua luar biasa. Mereka menghargai dan menghormati keberagaman”, tegasnya.

Pukul 12.10 WIT, situasi sudah normal. Baan bekas yang dibakar telah dipadamkan dan dibersihkan oleh warga. Begi juga dengan kayu-kayu yang dipake untuk palng Jalan Protokol. Terlihat umat Muslim memasuki Masjid Al - Muhajirin untuk sholad Dzuhur.

Dari Pompes Ihya As - Sunnah ke Polda Papua

Setelah menyerang, mengintimidasi dan memukul Bapak Henock Niki dan Irfan Niki, Ja’far Umar Thalib bersama tujuh santrinya melanjutkan perjalanan pulang ke Ponpes Ihya Assunnah. Ponpes Ihya Assunnah adalah tempat dimana Ja’far Umar Thalib tinggal bersama dengan para santrinya. Ponpes ini terletak di Arso empat belas, Kabupaten Kerom - Papua.

27 Februari 2019, pukul 12.35 WIT, Ponpes Ihya As-Sunnah itu tampak tak seperti hari-hari sebelumnya. Ada beberapa mobil polisi parkir di depan. Ada beberapa petugas polisi bersenjatah lengkap lalu yang lalu lalang sambil memeriksa beberapa bagian dari Polpes itu. Polisi sedang melakukan penggeledaan. Petugas polisi juga tanpak berbicara dengan Ja’far Umar Thalib. Dari kesaksian seorang petugas polisi, ketika proses pengeledahan, Ja’far Umar Thalib tidak melakukan perlawanan.

“Kami tanya Ustad Ja’far, dimana dia menyimpan samurai yang dipakai ketika menyerang rumah keluarga Bapak Henock Niki. Ustad Jafar langsung menyampaikan bahwa samurai-samurai itu ada di mobil, dan petugas lalu mengambilnya. Anaknya, Abdullah Jafar Tholib yang sedikit marah-marah karena tidak senang dengan petugas polisi yang mengambil parang yang biasa dipakai oleh para santri untuk membabat rumput,” kisah seorang petugas polisi itu yang tidak mau disebut namanya.

Setelah melakukan pengeledaan dan pengumpulan barang bukti, petugas polisi membawa Ja’far beserta tujuh orang santrinya dengan menggunakan mobil tri ton DS 8366 dan mobil isuzu elu DS 14 66 R. Mereka dibawa ke Mapolres Jayapura Kota untuk dimintai keterangan.

Siapa itu Ustad Ja’far Umar Thalib? Saiful Umam menulis dalam artikel “Radical Muslims in Indonesia: The case of Ja’far Umar Thalib and the Laskar Jihad”:

“Ustad Ja'far Umar Thalib dilahirkan di Malang, Jawa Timur pada bulan Desember 1961, dan keturunan keluarga Yaman-Madura yang beragama. Ayahnya, Umar Thalib, adalah seorang aktivis al-Irshad, dan seorang veteran dari 10 November 1945 yang terkenal "perang di Surabaya." beberapa media massa menggambarkan Ja'far dalam pelbagai cara: sebagai "seorang yang keras kepala", "pemimpin agama yang berwarna-warni," serta "pemimpin yang meyakinkan." Ahli astronomi dari Australia, Greg Fealy, menyatakan bahawa Ja'far adalah seorang yang dihormati dan pemimpin yang ditakuti . Kualitas kepemimpinan Ja'far, menurut seorang pakar pendidikan, Muhammad Sirozi, adalah hasil dari tiga bidang pendidikan yang berkaitan: pendidikan informal yang diterima dari ayahnya, pendidikan sekolah formal, dan pendidikan non-formal seperti penglibatannya dalam gerakan Salafi-Wahhabi di Pakistan dan pengalamannya sebagai pejuang perang suci di Afghanistan.”

Kehadiran Ustad Ja’far Umar Thalib dan Ponpes Ihya Assunnah di Arso XIV Kabupaten Kerom itu

“The Intellectual Roots of Islamic Radicalism in Indonesia.” The Muslim World no. 95, Sirozi, Muhammad menulis:

Pada tahun 1991, Ustad Ja’far Umar Thalib berangkat dari Indonesia ke Yaman Utara. Di Yemen, Ja’far Umar Thalib mendalami tentang ajaran Salafi dengan belajar ke Sheikh Muqbil ibn Hadi al-Wadi'i. Sheikh Muqbil dikenali sebagai tokoh utama Salafi Islam di Yaman. Didukung oleh pihak Islah Islam yang konservatif, beliau aktif dalam melaksanakan ajaran Salafi. Sebagai tambahan kepada Sheikh Muqbil, Ja'far juga mempelajari ajaran Salafi dari ulama-ulama Saudi yang terkenal, seperti Muhammad Nasr al-Din al-Albani dan Abd al-Aziz Abd Allah bin Baz.

Ja’far Umar Thalib tinggal di Yaman Utara selama dua tahun. Pada tahun 1993, Ja’far kembali ke Indonesia sebagai pribadi yang terpesona dengan ajaran Salafi-Wahhabi dan berkomitmen untuk menyebarkan pemikiran Salafi di Indonesia melalui da'wah dan pendidikan. Ia mendirikan Pompes Ihya al-Sunnah di Degolan, sekitar 15 kilometer di utara Yogyakarta. Ihya al-Sunnah artinya "Memelihara tradisi Nabi”. Dalam wawancara Majala Tempo yang berjudul “Sang Ustad yang Penuh Warna”, Ja’far menyampaikan bahwa ia ingin menyebarkan pemikiran Salafi-Wahhabi di kalangan orang muda Indonesia melalui lembaga pendidikan Pompes Ihya al-Sunnah. Buku-buku seperti al-Usul al-Thalathah (Tiga Prinsip Dasar) dan Sharh Kitab al-Tawhid (Penjelasan mengenai Teologi Islam) yang ditulis oleh Muhhamad ibn Abd al-Wahhab, dan al-Aqidah al-Wasitiyyah (Ideologi Jalan Tengah) yang ditulis oleh Ibn Taimiyah menjadi bahan-bahan pengajaran Ja’far Umar Thalib kepada para santrinya di Ponpesnya. Bagi Ja’far, buku-buku ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan santrinya tentang ideologi dan teologi Islam asas, sebagaimana ditafsirkan oleh ulama Salafi.

Ja'far juga terlibat dalam gerakan Salafi di Indonesia dengan sibuk mengajar dan menyebarkan pemikiran Salafi-Wahhabi kepada para santri di pesantren, dan terlibat dalam dakwah gerakan Salafi. Ia kerap memberi kuliah dan khotbah agama dalam perkumpulan yang dikenal sebagai halaqah (lingkaran kajian) yang telah berkembang sejak tahun 1980-an di kalangan pelajar universitas di Yogyakarta. Kegiatan da'wahnya itu kemudiannya menjadi sumber penting untuk merekrut anggota Laskar Jihad yang dibentuknya pada tahun 2000.

Pada tanggal 30 Januari 2000, Ja’far Umar Thalib mengumumkan terbentuknya Laskar Jihad dan mulai merekrut anggota yang bersedia berperang di Ambon. Ia membuka posko perekritan anggota Laskar Jihad di beberapa kota di pulau Jawa. Upayanya ini mendapat dukungan dari Yaman dan Arab Saudi Tujuh ulama Salafi mengeluarkan fatwa yang, menurut Ja'far, meluluskan rancangan jihad dalam membantu orang Islam di Ambon dengan tujuan untuk melindungi umat Islam dari serangan Kristiani. Mereka adalah Sheikh Abd al-Muhsin al-Abbad (Mufti Medina), Sheikh Ahmad al-Najm (anggota senior ulama Arab Saudi), Sheikh Muqbil ibn Hadi al-Wadi'i, Mufti Salafi di Yaman dan guru Ja'far; Sheikh Rabi 'bin Hadi al-Madkhali dari Madinah; Sheikh Salih al-Suhaimi (mufti Salafi di Madinah), Sheikh Wahid al-Jabiri (mufti Salafi di Madinah) dan Sheikh Muhammad ibn Hadi al-Madkhali (mufti Salafi di Madinah).

Setelah melakukan perekrutan anggota, Laskar Jihad melaksanakan latihan militer di beberapa kota. Majalah Gatra edisi 25 Maret 2002, misalnya, melaporkan pada bulan Maret 2000, Laskar Jihad melaksanakan pelatihan militer di Surabaya, Malang, Madiun, Jombang, Gresik (baca: seluruh Jawa Timur), serta di Solo, Jawa Tengah. Pada 6 April 2000, ribuan orang anggota Laskar Jihad berkumpul di stadium Senayan (baca: Stadiun Gelora Bung Karno), Jakarta. Mereka semua memakai pakaian putih, dan banyak yang membawa pedang. Mereka menghadiri tabligh akbar yang diadakan sebagai tindak balas terhadap konflik agama yang sedang berlangsung di wilayah Maluku. Tabligh akbar itu juga bertujuan untuk mengisytiharkan tahun 1412 Hijriah (tahun Islam) sebagai tahun jihad. Setelah tabligh akbar di Senayan, anggota Laskar Jihad itu berarak ke Istana Presiden untuk bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka mendorong Pemerintah dan negara segera mengambil tindakan yang diperlukan demi melindungi umat Islam. Dan pada tanggal 7 - 17 April 2000, Laskar Jihad melaksanakan sebuah Latihan Gabungan Nasional di Bogor, kemudian pada akhir bulan April dan pertengahan Mei 2000, mereka dikirim ke Maluku.

Pemerintah menentang tindakan Laskar Jihad. Setelah bertemu dengan perwakilan Laskar Jihad, Presiden Abdurrahman Wahid meminta polis dan tentara untuk menghadang pasukan Laskar Jihat pergi ke Maluku, tetapi gagal. Pasukan Laskar Jihad secara bebas pergi ke Maluku dan tidak menghadapi halangan dalam perjalanan mereka. Dalam laporan Majala Gatra edisi 25 Maret 2000, Ja’far Umar Thalib mengakui bahwa beberapa orang militer, sebagai pribadi, membantu Laskar sebagai pelatih militer. Ini artinya ada keterlibatan militer dalam Laskar Jihad, dan dapat dimengerti bahwa perintah Presiden Abdurrahman Wahid kepada polisi dan tentara itu gagal.

Laskar Jihad dibubarkan secara rasmi pada 7 Oktober 2002. Menurut Ja'far, pembubaran Laskar Jihad adalah keputusan dewan legislatif Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama'ah (FKAWJ) dalam pertemuan di Yogyakarta 3-7 Oktober 2002. Koran Kompas edisi 17 Oktober 2002, Ja’far membeberkan alasan utama pembubaran, yakni kecenderungan keterlibatan dalam manuver politik di antara anggota dan fatwa dari Syekh Rabi'i ibn Hadi al-Madkhali, salah satu dari tujuh ulama yang sebelumnya mendukung jihad di Maluku.

Pembubaran Laskar Jihad itu sangat mendadak dan bikin banyak orang terkejut, karena ketika itu terjadi, ribuan mujahidin (anggota Laskar Jihat) masih di Ambon. Ini menghasilkan asumsi bahwa keputusan Ja'far adalah karena persuasi atau tekanan dari pemerintah. Ada sebuah konteks dimana Pemerintah menekan Ja’far Umar Thalib untuk membubarkan Laskar Jihad, yakni peristiwa serangan “11 September 2001” dan pernyataan perang dari Pemerintah Amerika Serikat terhadap al-Qaeda. Pemerintah Indonesia berada di bawah tekanan Amerika Serikat dan dunia international setelah The New York Times memuat tulisan dari Raymond Bonner dan Jane Perlez yang berjudul “Qaeda Mobbing into Indonesia, Official Fear,” pada tanggal 23 Januari 2002, dan juga tulisan dari Andrew Marshall yang dimuat oleh The New York Times Magazine dengan judul “The Threat of Jaffar,” pada tanggal 10 Maret 2002 dimana Ja'far dilaporkan memiliki hubungan dengan Osama bin Laden dan Laskar Jihad dilihat sebagai sayap al-Qaeda di Indonesia. Pemerintah Indonesia menegaskan kepada publik bahawa tidak ada bukti adanya operasi al-Qaeda di Indonesia.

Pada tanggal 4 Mei 2002, Ja’far ditahan dengan dakwaan menghina Presiden Indonesia dan menciptakan konflik agama, tetapi pada 30 Januari 2003, Pengadilan Negeri Jakarta Timur memutuskan bahawa ia tidak bersalah. Majala Gatra (edisi October 26, 2002), Majala Tempo (edisi October 27, 2002) dan Koran Kompas (edisi October 17, 2002) menganalisis kemungkinan hubungan antara penahanan dan pembebasan Ja’far dengan pembubaran Laskar Jihad. Artinya, Ja’far akan dibebaskan jika dia membubarkan Laskar Jihad.
Setelah bebas, Ja’far kurang mendapat publikasi.

Nama Ja’far Umar Thalib kembali disebut ketika ketika terjadi penyerangan terhadap rumah Julius Felicianus, Direktur Galang Press. Pada tanggal 29 Mei 2014, Front Jihad Islam (FIJ) menyerang rumah milik Direktur Galang Press yang sedang doa Rosario bulan Maria dari umat Katolik Santo Fransiscus Agung, Gereja Banteng. Anak buah Ja’far Umar Thalib dan koordinator Front Jihad Islam (FJI), Abdurahman mengakui bahwa merekalah yang melakukan penyerangan. Media online Satu Harapan (14 Januari 2016) melaporkan bahwa Front Jihad Islam diketahui kerap kali terlibat dalam sejumlah aksi intoleransi di Yogyakarta. Aksi intoleransi tersebut tidak hanya dilakukan terhadap umat beragama di luar Islam, melainkan juga terhadap berbagai kelompok di dalam Islam sendiri. Mereka bahkan memaksa pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok Syiah. Namun keinginan mereka ditentang oleh dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam besar di Indonesia, yakni NU dan Muhammadiyah yang dikenal sangat moderat dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Pada tanggal 8 Juni 2014, Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Yogyakarta menggelar tabligh akbar di masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Temanya adalah ‘Perang Melawan Pluralisme’ dengan narasumber utama Ja’far Umar Thalib. Dalam ceramahnya, Ja’far Umar Thalib dengan tegas menyatakan keinginannya yang siap berperang melawan pluralisme karena menurutnya Islam tidak mengenal paham pluralisme. Baginya, pluralisme merupakan paham yang membawa pemurtadan bagi umat Islam. Dia menuding kelompok di luar Islam yang mencetuskan paham ini.

Pada tahun 2015, nama Ja’far Umar Thalib kembali diperbincangkan ketika orang memperbincangkan kasus Tolikara 2015.

Kasus itu terjadi pada tanggal 17 Juli 2015 di kota Karobaga ketika umat muslim sedang melaksanakan salat Id di alaman Koramil TNI AD dan pertemuan para pemuka dan pemuda Gereja GIDI yang diadakan pada saat yang bersamaan. Waktu itu ada kesepakatan antara Jemaat GIDI dan umat Muslim untuk salad Id dari umat Muslim tidak menggunakan pengeras suara, tetapi umat Muslim menggunakan pengeras suara ketika melaksanakan salad Id. Akibat pemuda GIDI dalam jumlah yang banyak datang untuk melakukan protes kepada umat Muslim, tetapi dibalas dengan tembakan dari aparat keamanan. Akibat tersebut, 38 rumah dan 63 kios terbakar termasuk Musola yang terletak di pasar Karubaga dan 153 penduduk mengungsi. Ada seorang anak yang dikabarkan tewas dan sebelas orang lainnya mengalami luka tembak aparat keamanan. Seluruh korban dalam peristiwa tersebut adalah jemaat dari GIDI. Peristiwa ini justru memicu kemarahan umat Islam di seluruh Indonesia. Ja’far Umar Thalib juga ikut berteriak. Dia mengeluarkan maklumat Jihad Fi Sabilillah ke Papua pada 20 Juli 2015. Ia menyatakan perang terhadap kelompok yang menyerang umat Islam. Dalam maklumat yang sama, ia juga jelas menyebut pemerintah Indonesia sebagai pemerintahan yang kafir. Dalam sebuah video yang diupload pada tanggal 15 April 2018 ke channel “Shifrun” dengan judul “Papua Milik Siapa”, Ustad Ja’far Umar Thalib menyampaikan bahwa dia terpanggil untuk berjihat di Papua membela kaum muslim setelah melihat kerusuhan di kota Karubaga, ibukota Kabupaten Tolikara. Masih dalam video yang sama, Ja’far Umar Thalib menyampaikan alasannya untuk tinggal dan berjihad di tanah Papua.

Meski maklumat Jihad Fi Sabilillah telah dikeluarkan, namun tidak terlihat tanda-tanda sebagai tindak lanjut merespon peristiwa Tolikara hingga kabar mengejutkan datang dari Koya Barat. Menurut seorang warga yang diwawancarai penulis pada tanggal 28 Februari 2019, pada tanggal 9 Desember 2015, minggu pertama Advent, di Koya Barat, Kota Jayapura, seorang pemuda Islam yang hendak melaksanakan sembahyang merasa terganggu dengan lagu-lagu rohani yang diputar dari pondok Natal itu menyerang pemuda Kristen di pondok itu. Perkelahian akhirnya tidak dapat dihindari. Beruntung aparat keamanan dengan cepat menyelesaikan persoalan tersebut tanpa harus memperpanjang persoalan. Belakangan diketahui bahwa pemuda Islam yang terlibat dalam perkelahian tersebut adalah salah satu santri Ja’far Umar Thalib yang sedang berada di Koya Barat, Kota Jayapura. Peristiwa yang hampir sama terjadi di tahun berikutnya ketika santri Ja’far Umar Thalib melempar batu ke acara Kebaktian Kebangunan Rohani dari jemaat Pentakosta di Koya Barat. Berbagai reaksi muncul dari tokoh dan ormas Islam di Papua atas kehadiran Ja’far Umar Tahlib di Koya Barat. Para tokoh Kristem dan Muslim bersama para pemuda menyampaikan protes kerasnya atas kehadiran Ja’far Umar Tahlib di Papua. Kehadiran Ja’far di Papua hanya akan menciptakan keresahan di kalangan umat beragama di Papua. Bukan saja dari umat Kristen di Papua, bahkan dari kalangan umat Islam di Papua sendiri menjadi resah karena kehadirannya. Fadhal Alhamid, pemuda tersebut menyebutkan bahwa upaya menjaga perdamaian di Papua akan semakin berat jika Ja’far Umar Tahlib dibiarkan berada di Papua.

Ja’far Umar Tahlib sulit dikeluarkan dari Papua. Dalam sebuah pertemuan antara Majelis Rakyat Papua dan Kapolda Papua, Kapolda menyatakan bahwa Ja’far Umar Tahlib sulit dikeluarkan dari Papua. Ia dapat dikeluarkan dari Papua jika ia melakukan tindak pidana. Tetapi Ja’far Umar tahlib akhirnya rela meninggalkan Papua di waktu itu setelah ada pembicaraan dengan seorang tokoh politik yang adalah seorang Kristen Protestan dari Sulawesi Utara. Tokoh itu dikenal memiliki hubungan baik dengan Ja’far Umar Tahlib.

Menurut Ja’far Umar Tahlib, peristiwa penyerangan terhadap pemuda Kristen di pondok Natal itu bisa terjadi karena ada salah paham. Santrinya telah menegur para pemuda Kristen tidak memutar lagu Natal keras-keras tetapi tidak diindahkan. Alasan yang sama juga disampaikan ketika ia memberi keterangan kepada penyidik Polisi di Polres Kota Jayapura pada tanggal 27 Februari 2019.

Sekitar pukul 14.00 WIT, mobil tri ton DS 8366 dan mobil isuzu elu DS 14 66 R yang ditumpangi Ustad Ja’far Umar Talib dan ketujuh orang santrinya tiba di Kantor Polisi Daerah (POLDA) Papua dengan pengawalan polisi. Ia menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Papua. Setelah beberapa jam menjalani pemeriksaan, Ja’far Umar Thalib dilarikan ke rumah sakit karena sakit asam uratnya kambu.

Pada tanggal 28 Februari 2019, Direktur Reskrimum Polda Papua Kombes Pol Tonny Harsono mengatakan bahwa Polisi menetapkan status tersangka kepada Ja’far Umar Thalib dan enam santrinya berdasarkan gelar perkara, sementara Fauzi Maqsud dipulangkan lantaran tidak terbukti terlibat. Ja’far Umar Thalib dan enam santrinya dikenakan pasal 170 ayat (2) ke-1 UU KUHP yang isinya barang siapa dengan terang-terangan dan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang. Bukan hanya itu saja JUT dan dua pengikutnya juga dikenakan pasal berlapis yakni pasal 2 ayat (1) UU Darurat nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam tanpa ijin.

Pompes Ihya As- Sunnah di Arso XIV

Hari ini, Ja’far Umar Thalib dan tujuh orang santrinya menjadi perhatian publik di Indonesia, khususnya di Papua. Pompes Ihya Assunnah di Arso XIV turut jadi perbincangan publik. Ja’far Umar Thalib menegaskan bahwa ia hadir di Papua untuk berdakwah. Ia meyakini bahwa umat Islam di Papua masih jahil (baca: bodoh) akan syariat Allah SWT dan jauh dari ilmu agama Islam sehingga merasa terpanggil untuk melakukan dakwah di Papua dengan mendirikan Pesantren Ihya Assunnah di Arso XIV dan mengirim sejumlah da’i di berbagai daerah pedalaman di Papua. Awal mendirikan Pesantren.

Tahun 2015 hingga 2018, Bupati Kabupaten Kerom, Celcius Watae menentang keberadaan Ja’far Umar Thalib dan Pompesnya di Arso XIV. Pompesnya itu pernah dipasang garis boleh dan hendak ditutup. Tetapi pada tanggal 11 Januari 2016, media panjimas.com mengabarkan bahwa Wakil Walikota Jayapura, Dr. H. Nur Alam SE. M.Si, merestui rencana Ja’far umar Thalib mendirikan pesantren di wilayah pemerintahannya. Pada tanggal 10 Januari 2018, Celcius Watae meninggal dunia karena serangan jantung. Muh. Markum SH, MH, MM anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai Wakil Bupati dilantik menjadi Bupati Kabupaten Kerom mengantikan Celcius Watae. Tidak ada yang kuat menghalangi Ja’far Umar Thalib dan misinya. Publik pun lupah, tidak ada yang memperhatikan sepak terjangnya di Kabupaten Kerom dan Kota Jayapura hingga kejadian 27 Februari 2019 lalu.

Kini Ja’far Umar Thalib dan tujuh santrinya telah terdaftar sebagai penduduk di RT. 000 Arso XIV Distrik Skamto, Kabupaten Kerom, Papua. Tanah seluar 28.5 hektar yang dibeli dan dibangun Pesantrennya kini telah bersertifikat.

Kini warga Kerom, khususnya Distrik Skamto menjadi hati-hati dalam membahas kehadiran Ja’far Umar Thalib dan Pompesnya Ihya As- Sunnah. Terkesan warga takut.

Kisah Ja’far Umar Thalib ini memperlihatkan bahwa kelompok radikal Islam sedang tumbuh di tanah Papua. Tetapi kita perlu ingat, bahwa bukan hanya Ja’far Umar Thalib dan kelompoknya saja. Di Koya Barat itu ada juga sel dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Meskipun kedua kelompk ini memiliki idiologi Wahhabi, tetapi keduanya memiliki pendekatan yang berbeda di Indonesia. Ja’far Umar Thalib itu sangat nasionalis Indonesia (baca: NKRI harga mati). Sementara HTI sedang memperjuangkan Negara Khalifa. Dari hasil wawancara dengan beberapa warga di Koya Barat, para pengikut HTI dan Ja’far Umar Thalib tidak sejalan. Mereka saling menudu satu sama yang lain sebagai kafir.


Features
Credibility: UP DOWN 0
Comments
uzivijol (Jun 28 2019)
http://mewkid.net/buy-amoxicillin/ - Amoxicillin <a href="http://mewkid.net/buy-amoxicillin/">18</a> cqs.icpt.papuanarchive.org.eni.gf http://mewkid.net/buy-amoxicillin/
oizadola (Jun 28 2019)
http://mewkid.net/buy-amoxicillin/ - Amoxicillin No Prescription <a href="http://mewkid.net/buy-amoxicillin/">Amoxil Children</a> boa.huat.papuanarchive.org.ipw.tv http://mewkid.net/buy-amoxicillin/
Leave a Comment
Name:
Email:
Comments:
Security Code:
10 + 10 =

Additional Reports

The Killing of Mako Tabuni

19:17 Jan 28, 2017

Jayapura, Papua, Indonesia, 27.87 Kms

Polisi interogasi seorang pemuda Papua dengan menggunakan Ular

06:54 Feb 22, 2019

Kantor Polres Jayawijaya, Jl. Bhayangkara Wamena, Hurekama, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua 99511, 242.6 Kms

Mama Kasmira

21:18 Mar 27, 2018

Workwana, 320.05 Kms

Indonesian Military ill Treat and Torture Indigenous Papuans

19:21 Jan 28, 2017

Tingginambut, Puncak Jaya, Papua, Indonesia, 415.6 Kms

KNPB Mimika: Aktivis KNPB Mimika diintimidasi, dipukul dan ditahan oleh Polisi

12:14 Feb 24, 2019

Pengadilan Negeri Timika, Jl. Yos Sudarso No. 42 Kota Timika, Mimika Regency, Papua 99910, 463.5 Kms